Collective Thoughts of Jun Imaginer #5 : Netflix, Film Korea dan Telenovela (Part 2)

in hive-103393 •  last year 

Selamat datang kembali di
Collective Thoughts of Jun Imaginer.
Sebuah serangkaian penuangan kumpulan buah pikiran karakter Jun Imaginer yang menurut hemat penulis sebaiknya di'tuang'kan demi memenuhi kepuasan diri.

Hai!
Lanjut punya kmaren,

Film (movie dan series) Korea belakangan ini sudah masuk dalam perhatian Jun Imaginer. Enggak tau pasti sejak kapan awalnya, coba kita tarik ulur ke belakang...

Ingatan pertamaku yang berhubungan dengan layar kaca dan sinema adalah saat aku sudah kelas 3 SD, mungkin lebih awal dari itu yang jelas aku sudah cukup matang untuk mengingat dan memproses apa saja yang ku tonton. Duduk bersila diatas lantai ubin yang dingin tertegun menghadap sekotak TV tabung yang memiliki 2 batang aluminium antena yang bisa di lipat berbentuk V dibelakangnya. Ada meja khusus yang di desain sebagai meja tv masa itu. Masih terkenang tercium bau apek, lembab dan debu yang setiap hari harus di lap. Tahun demi tahun TV diruangan itu berangsur-angsur berubah dengan berbagai macam bentuk, tipe dan merk,semakin melebar dan semakin menipis.

Anehnya, jika kuingat lagi sekarang, dulu TV merupakan semacam benda sakral diruangan tengah rumah, di selimuti dengan selembar kain berenda tembus pandang, seketika dicabut colokan saat terdengar suara petir. Lucunya, @hendrasusoh mencuri pandang layar laptop saat aku menulis ini dan sedikit berkomentar sebelum berangkat balik ke kantor.

23.jpg

  Photo Credit : Indonesia Jaman Dulu

Iya ya..., kalau kita ingat, dulu cuma "orang kaya" yang punya di TV dirumahnya, nggak semua orang loh. Dan jika kupikir-pikir lagi, ku iyakan sih, kaya kali sih enggak, cuman bisa dianggap "berada" lah. Orangtuaku cukup makmur dari jerih payah mereka berwirausaha seperti berjualan, sewa-menyewa becak-sepeda hingga kemudian becak-motor dan menyewakan rumah. Hingga satu persatu berguguran akibat dampak Krisis Moneter tahun 90an.

26.JPGPhoto Credit : Twitter @Ichon_MSy

Momen saat aku dan teman-teman masih bocil, semenjak pagi setelah sarapan mereka satu persatu berkumpul untuk menonton Son Goku di rumah ku. Tepat setelah itu baru kami keluar bermain. Permainan jaman dulu sih macam-macam, tergantung musim. Kadang ada musim main guli, kemudian berganti main gambar (kartu), sepak bola, sambarlang, engklek, ikan laga, pecahin biji pohon karet, dan sebagainya.

Photo Credit: Kaskus
Satu-dua kesempatan, kudapati para tetangga, emak-emak main ke rumah setelah aku pulang mengaji. Ngobrol tentang arisan, acara ini itu sambil menonton sinetron seperti Tersanjung, Pernikahan Dini, atau telenovela seperti Marimar, Cinta Yang Hilang.

Tontonan seumuran kakak-kakakku yang ABG yang kuingat dulu ada drama cinta-cintaan Sancai dan Tau Ming Tse ama genk F4 (epshek) dari serial Meteor Garden.

Maaf penulis ucapkan kepada pembaca sekalian karena belum juga masuk ke pokok pembahasan. Jun Imaginer masih ingin bersenang-senang akan kenangan masa silam, masih segar teringat kecintaan pada Sinema Layar Emas, yang sudah lewat jam tidurnya karena lelah menunggu selesai Laporan Khusus Pak Harto dan Dunia Dalam Berita. Deretan pemutaran kejayaan film mandarin, Jackie Chan, Andy Lau, Cho Yun Fat, Sammo Hung, dkk. Film barat mulai dari Stallone, Arnold dan Van Damme.

Semenjak dulu juga aku sudah rajin mengikuti serial atau yang dulu kita sebut "Pilem Bersambung" diantaranya di pagi menjelang siang ada Wiro Sableng : Kapak Geni 212. Sore hingga sebelum magrib ada serial kungfu seperti Kera Sakti dan Pendekar Rajawali.

Malam harinya di jam-jam Prime Time ada banyak cerita kolosal jaman Majapahit atau semacamnya seperti Misteri Gunung Berapi (Mak Lampir), Brama Kumbara, Angling Dharma..

Untuk serial barat yang masih samar-samar teringat pernah ku ikuti yang pemerannya Lorenzo Lamas di acara Renegade, dan yang diperankan oleh boss nya Kill Bill (David Carradine) di serial Kung Fu : The Legend Continues, MacGyver, serial mobil canggih Viper dan Knight Rider.

Habis satu diganti pilihan tayangan lain seperti Gerhana, Saras 008 dan Panji Manusia Millenium. Kenapa konsep sinetron Superhero Lokal ini ada? Karena saat itu anak-anak menggandrungi karakter pahlawan dari tayangan luar negeri seperti Satria Baja Hitam, Ultraman, Jiban serta Power Rangers. Maka nya pembuat pilem/sinetron dulu beranggapan bahwa perlu sosok karakter pahlawan yang dipuja-puja, menjadi kebanggaan anak-anak Indonesia akan sosok Pahlawan Super dari Indonesia pula yang sedikit banyak membawa pesan budaya, kecintaan dan kebanggan sikap patriotis terhadap Indonesia.

27.jpg

  Photo Credit : Detik Hot

Walaupun jika dibandingkan antar produksi luar dan negeri sendiri tentu kurang cukup matang untuk bersaing baik dari segi produksi, setting, lokasi, properti, kostum hingga kualitas cerita dan koregrafinya. Namun, selain dari itu, terlepas dari perspektif teknis perfilman, dsb. Sinetron Superhero lokal cukup sukses menarik minak dan antusias penontonnya hingga kemudian cukup digandrungi laku terjual cukup banyak merchandise dan apparel yang berbau kostum superhero lokal.

- ; -

Beranjak dewasa...,

...
...
...

Sekian dulu, besok kita sambung lagi....
bye

Jun Imaginer

Sebagian dari reward tulisan ini disumbangkan ke program @steem.amal. Semoga berkah dunia akhirat

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  

Mamtrap x pak jun,.. Jadi ingat ne jaman dahulu laka, ada sakit hatinya juga sih,.. Nonton satria baja hitam di rumah tetangga sebelah yang ada parabolanya, Sehari dikasi, dua hari dikasi, hari ketiga dipanggilin dah gak ada yang jawab lgi, auto rumah kosong jadinya kalau dah jam satria baja hitam main, Alhamdulillah ortu ane gk tega liat anaknya nangis,.. Dua hari kemudian langsung beli parabola 😄😄😁

Ceritanya sedih tapi pas ku baca kok jadi tetawa tbahak² awak

hahahahhahahaahaha

Kamu tidak tau apa yang aku rasakan... 😅

Parabola-nya sih idop, tapi kalo nonton yang itu pakek kunci ga wak?

Gk wak, aku yg dikunci dikamar 😂

hahaha. jaman dulu memang menarik